Home Politik

ART: Jangan Sangka Saya Bukan Anak Daerah Sulteng

416
SILATURAHMI - Mantan Kepala Desa Lolu Imran Latjedi memperkenalkan ART selaku ketua Parmusi Sulteng sekaligus calon DPD RI Sulteng kepada warga Biromaru notabene korban bencana likuifaksi, bertempat di wilayah pengungsian Desa Lolu Biromaru. (Foto: Firmansyah Badjoki/ Metrosulawesi)

Sigi, Metrosulawesi.id – Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr Abdul Rahman Thaha SH MH (ART), melakukan silaturahmi ke masyarakat pengungsian korban bencana likuifaksi di Desa Lolu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Rabu, 23 Januari 2019.

Calon DPD RI ART yang dikenal dengan sebutan Anak Guru Mengaji ini menyapa ratusan warga Biromaru, bertempat di pondok pengungsian hunian sementara (Huntap) Desa Lolu.

Pada pertemuan itu, Abdul Rahman Thaha mengatakan bahwa silaturahmi yang dilakukannya menyapa warga Biromaru tidak lain kapasitasnya selaku ketua persaudaraan muslimin Indonesia (Parmusi) Sulawesi Tengah.

Kata dia, demi mengurus kepentingan umat maka ia pun terpanggil jiwanya untuk meringankan beban warga Biromaru, dan membantu untuk memfasilitasi kebutuhan warga terdampak bencana 28 September 2018 lalu.

“Padahal waktu itu sebelum bencana saya berangkat ke Jakarta Hari Rabu, 25 September. Kemudian baru tahu bencana terjadi Jumatnya, 28 September, dan jaringan tidak bisa lagi berhubungan kontak telepon,” ungkapnya kepada warga Biromaru.

ART menambahkan, wilayah Biromaru dan sekitarnya tidak asing lagi baginya, sebab daerah ini telah dikenalnya sejak lama. Karena Oragtuanya (Bapak) dulu diakui sebagai penjual cakar. Sehingga sejak mengenyan pendidikan kelas 6 SD, ia mengaku lagi sering berjualan di eks pasar biromaru lama.

“Jangan sangka saya ini bukan anak daerah Sulawesi Tengah, sebab dari kecil saya sudah berjualan cakar di Biromaru ini,” terangnya.

Menurutnya, sementara ibunya sendiri merupakan guru mengaji yang mengabdikan dirinya hampir 40 tahun lamanya. Berangkat dari hal ini keinginannya mensejahterakan pegawai syara’, iman masjid, dan guru mengaji, sangat besar berjuang di senayan Jakarta.

“Coba kita lihat ketika anak kita yang mau menikah yang dicari itu tidak mungkin Gubernur, Walikota, dan Bupati. Karena yang dipanggil pasti Pak Imam Masjid, maka dari itu tunjangan mereka pun harus sebanding dengan pekerjaan mereka,” pungkasnya.

Reporter: Firmansyah Badjoki
Editor: Ewin Kandabu

Ayo tulis komentar cerdas