Home Poso Dinkes Poso Antisipasi DBD

Dinkes Poso Antisipasi DBD

61
CEGAH DBD - Petugas dari Dinas Kesehatan Poso menaburkan bubuk abate di rumah warga. (Foto: Ryan Darmawan/ Metrosulawesi)

Poso, Metrosulawesi.id – Mencegah terjadinya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Poso, Sulteng pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Poso membagi-bagikan serbuk abate di rumah-rumah warga.

Pembagian serbuk abate dilakukan dengan cara ditaburkan ke bak mandi hingga tempat penampungan air milik warga yang berada di Kelurahan Kasintuwu dan Bonesompe, Kecamatan Poso Kota Utara. Sabtu pagi 19 Januari 2019.

Selain itu tak hanya rumah-rumah warga saja, pihak Dinkes Poso mendatangi tempat penampungan air yang berada di rumah-rumah ibadah, tempat umum hingga baik air milik sekolah untuk menaburkan serbuk abate tersebut.

Dinkonfirmasi Kadis Dinkes Poso, dr Taufan Karwur mengatakan, pembagian serbuk abate tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya DBD di wilayah Poso yang pada tahun 2018 kasus DBD cukup meningkat, sehingga hal tersebut membantu warga Poso agar terhindar penyakit DBD.

“Iya sejak akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini ada terjadi peningkatan kasus DBD di wilayah Poso. Jadi kami baru-baru ini melakukan penyelidikan ebidiologis dan kemudian melakukan kordinasi sehingga kami melakukan pencegahan melalui abatisasi,” ucap Taufan.

Ditemui dilapangan Perminas Lagano selaku Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan penyakit menyampaikan, kegiatan ini dilakukan lebih awal sebelum terjadinya kasus DBD. Sementara abatisasi atau pemberian serbuk abate dilakukan merupakan tindakan menekan populasi jentik nyamuk.

Menurutnya, jika jentik sudah mati populasi nyamuk akan berkurang dan nyamuk tidak tumbuh dewasa dan proses penularan nyamuk bisa ditekan.

“Apa yang dikhawatirkan masyarakat soal DBD yang sudah menimbulkan wabah penyakit bisa kami antisipasi dari sekarang,” jelasnya.

Perminas menambahkan, jika tahun 2018 sebanyak 81 kasus penyakit DBD yang terjadi di wilayah Poso. Abatisasi akan berlanjut ke daerah endemis DBD yang berada di wilayah Poso kota lainya dan Poso Pesisir dalam menekan angka tingginya kasus DBD.

Selain itu kepada media ini, Sofia Widiastuti penanggung jawab program mengatakan, ada sebanyak delapan tim berjumlah lima puluh orang gabungan Dinkes Poso dan pihak Puskesmas Lawanga yang disebar untuk menaburkan serbuk abate.

Imbauan Kemenkes

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rilisnya yang diterima Ahad 20 Januari 2019, meminta masyarakat tetap waspada sementara pemerintah daerah melakukan upaya pencegahan.

Di beberapa daerah terjadi peningkatan kasus DBD seperti Kabupaten Kuala Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi NTT, Sulawesi Utara, dan daerah lainnya di Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI disebutkan distribusi penyakit suspek DBD sejak minggu pertama 2018 hingga minggu pertama 2019 tertinggi ada di Jawa Timur dengan jumlah suspek DBD 700 orang, diikuti Jawa Tengah 512 orang, dan Jawa Barat 401 orang.

Suspek DBD, artinya belum tentu positif kasus DBD namun sudah harus menjadi kewaspadaan oleh masyarakat dan pemerintah.

Kemenkes RI melalui Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh kepala dinas kesehatan provinsi untuk tetap siaga menghadapi kasus DBD.

Melalui surat edaran itu, setiap daerah diimbau untuk meningkatkan sosialisasi dan edukasi dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

PSN dapat dilakukan melalui kegiatan menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk dengan cara mengimplementasikan gerakan 1 rumah 1 juru pemantau jentik (Jumantik).

Meningkatkan surveilans kasus dan surveilans faktor risiko terhadap kejadian DBD, di antaranya melalui kegiatan pemantauan jentik berkala.

Menyediakan bahan insektisida dan larvasida untuk pemberantasan nyamuk dan jentik.

Dinas kesehatan provinsi juga diimbau mengaktifkan kembali kelompok kerja operasional penanggulangan DBD di berbagai tingkatan RT/RW, desa/keluarahan, kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi.

Peningkatan sumber daya pencegahan dan pengendalian DBD juga perlu dilakukan meliputi peningkatan kapasitas SDM, termasuk bahan dan peralatan untuk melakukan deteksi dini dan pengobatan segera di kuskesmas dan rumah sakit.

Reporter: Ryan Darmawan
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here