Home Donggala

Pelabuhan Donggala Turun Status, Abu Bakar Serukan Perlawanan

357
GERAM - Abu Bakar geram saat menjelaskan status Pelabuhan Donggala di ruang kerjanya, Kamis 17 Januari 2019. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

Donggala, Metrosulawesi.id – Impian masyarakat Donggala akan kejayaan kembali pelabuhan Donggala sulit terpenuhi. Pasalnya, belum lama ini tepatnya pada Agustus 2018, Kementerian Perhubungan mengeluarkan surat saktinya bernomor 76 tahun 2018 tentang penggabungan kembali Pantoloan dan Pelabuhan Donggala.

“Ada apa ini? baru tiga tahun kemarin (2015) kita diberikan otonomi khusus dari Kementerian Perhubungan mengelola sendiri pelabuhan Dongala, ditengah jalan kita dibodohi lagi dikelok di tengah jalan. Ini bentuk tsunami kedua untuk Donggala, tak ada kata lain selain melakukan perlawanan,”kata Abu Bakar di ruang kerjanya, Kamis 17 Januari 2019.

Olehnya, tekan Abu Bakar Aljufri dia menilai surat yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan Agustus 2018 itu, ada indikasi permainan oknum Pelindo dan KSOP Pantoloan yang memang sengaja mengambil alih pendapatan terbesar Donggala di sektor kepelabuhanan.

Dia akan melakukan perlawanan terhadap persoalan pelabuhan Donggala karena menurut politisi Golkar yang terjadi saat sekarang adalah bentuk pembodohan terstruktur dilakukan oknum di Pelindo dan KSOP Pantoloan.

“Dengan adanya surat Kementrian ini otomatis pelabuhan Donggala turun status. Kita hanya sebagai wilayah kerja tapi hasilnya nyeberang ke Palu atau Pantolaan. Masak kita hanya dikasi Pelabuhan Ogoamas yang penghasilannya tidak besar. Terus mereka mengambil pelabuhan Wani dan Pelabuhan Dongagala, ada apa ini? Langkah awal yang kami lakukan menghubungi dulu Kadis Perhubungan menanyakan tembusan surat Kementrian bernomor 76 tahun 2018, kemudian menyampaikan ke bupati Kasman Lassa agar menseriusi persoalan ini. Mudah-mudahan bupati punya perasaan dan perhatian serius karena pekerjaan pertama di periode kedunaya pasca pelantikannya memperjuangkan kembali pelabuhan Donggala,” tuturnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas