Home Palu

Pemkot Targetkan Master Plan Zonasi Rawan Bencana Selesai Juni

336
PEMAPARAN - Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan Kota Palu Dharma Gunawan Mochtar saat memaparkan kawasan Zonasi Rawan Bencana. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Penataan Ruang Dan Pertanahan menargetkan master plan Zonasi Rawan Bencana di Palu, Sulawesi Tengah, paling lambat selesai Juni 2019.

Kepala Dinas Penataan Ruang Dan Pertanahan Kota Palu, Dharma Gunawan Mochtar mengatakan, hal ini bertujuan untuk mempermudah pembangunan di Palu pascagempa bumi dan tsunami, yang mengguncang kota tersebut beberapa waktu lalu.

“Peta master plan ditargetkan akan segera rampung semua persoalan subtansi ini bisa selesai untuk pembangunan Palu ke depan,” katanya, saat ditemui Metrosulawesi diacara Sosialisasi Penetapan Zonasi Rawan Bencana Dan Dampaknya Terhadap Pengembangan Kawasan Perumahan Dan Permukiman Di Kota Palu, Senin, 14 Januari 2019.

Menurutnya, pertemuan dengan Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Tengah agar ruang kebutuhan pengembangan investasi lebih cepat. Lebih lanjut dia mengatakan peta Zonasi Rawan Bencana sesuai kesepakatan empat Kementerian dan beberapa lembaga terkait. Tetapi, ini merupakan rekomendasi yang nantinya oleh pemerintah setempat akan disusun dalam bentuk regulasi.

“Jadi, kalau Peta Zonasi yang sudah direkomendasikan oleh berbagai institusi ditingkat pemerintah pusat. Sementara, pemerintah daerah masih terus berusaha agar ke depan lebih baik. Jangan sampai nanti yang semestinya bisa untuk pembangunan, kita nyatakan tidak bisa. Sebaliknya begitu, semestinya berbahaya kita nyatakan bisa. Karena Palu bukan hanya sekedar Palu Bangkit, tetapi Palu juga harus bisa membangun melalui investasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nantinya, master plan tersebut akan berguna dalam mengatur daerah-daerah yang rawan untuk ditinggali dan daerah yang dapat dibangun kembali. Ia mengatakan pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) atau peneliti dari Jepang yang akan membantu pemerintah daerah dalam menyusun peta rawan bencana.

“Dalam waktu dekat pihak JICA penelitian dari Jepang membantu dan akan ada secara detail yang terlihat tentang peta Zonasi di Sulteng dan spesial analisisnya 1:5.000 RDTL. Sedangkan peruntukan ruang, Perda RTRW sekarang masih berlaku 1: 25.000 itupun juga masih belum terlihat jelas. Tinggal menunggu hasil serta arahan zonasi yang disepakati bersama Pemprov, Pemkot dan Pemkab,” jelasnya.

Sementara itu, ia juga menjelaskan, tanah yang tak dapat lagi dibangun sebagai tempat tinggal, nantinya akan dijadikan sebagai kajian peneliti. Di karenakan likuifaksi baru terjadi dan populer, sehingga mata dunia banyak menuju ke Palu sebagai tempat penelitian mereka. Sementara warga harus direlokasi dari wilayah tersebut.

“Di tahun 2012 pernah ada kajian yang menyatakan tentang bencana likuifaksi. Tapi, bukan di Balaroa dan Petobo, nanti tahun ini menjadi populer dan mereka melakukan izin untuk melakukan penelitian di daerah ini. Tapi, Palu menjadi perhatian penuh dari dunia terutama negara Jepang. Perspektif ke depan adalah pengurangan resiko bencana, bukan berarti tidak boleh. Artinya, kajian ilmiah sifatnya relatif dan dari sifat itu kita harus selalu memakai prinsip berhati-hati,” jelas dia.

Ia mengatakan, bencana yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala telah merubah bentang alam yang cukup luas di daerah tersebut, sehingga perlu diadakan relokasi dan revitalisasi. Sementara, pihak Dinas Penataan Ruang Dan Pertanahan telah melakukan diskusi dengan Walikota Palu terkait dengan master plan terbitan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENAS) tentang percepatan pemulihan Pasigala.

“Seperti Teluk Palu disebut dalam kajian sejauh 100 hingga 200 meter dari pantai harus menjadi titik evakuasi. Tanah itu, nanti tidak bisa dipakai lagi untuk perumahan. Orang-orang itu akan dipindahkan dan itu bagian dari kebijakan dari pemerintah untuk relokasi serta membangun tempat-tempat yang lebih aman, yang jauh dari patahan atau sesar. Tanah yang tenggelam, bisa jadi tanah pertanian,” tambahnya.

Reporter: Fikri Alihana, Eddy
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas